Ketemu UFO Tahun 2025

Manusia akan melakukan kontak dengan makhluk luar angkasa sekitar tahun 2025, demikian diramalkan dua orang astronom dalam bukunya. Sang penulis menyebutkan, makhluk luar angkasa itu tidak seperti yang digambarkan Hollywood dalam film ET –kecil, hijau dan tidak berambut. Mereka juga tidak akan tiba-tiba mengunjungi Bumi, namun barangkali akan mengirim sinyal radio terlebih dahulu untuk memberitahukan pada kita mengenai keberadaan mereka.

Menurut Seth Shostak, salah satu penulis yang juga astronom senior pada proyek Search for Extraterrestrial Intelligence Institute (SETI), di Mountain View, California, buku berjudul Cosmic Company itu berisi penjelasan mengapa para astronom yakin ada makhluk lain di luar Bumi, bagaimana mereka mencari makhluk itu, bagaimana rupanya, dan bagaimana dampak pertemuan dengan para alien tersebut.

Shostak dan rekannya Alexandra Barnett, astronom dan direktur eksekutif Chabot Space and Science Center di Oakland, California, mengemukakan ramalan mereka itu didasarkan pada berbagai faktor. Faktor itu antara lain adanya waktu milyaran tahun dimana kehidupan di luar Bumi bisa berevolusi, dan banyaknya planet dan bintang di jagad raya yang memiliki kondisi seperti Bumi dimana kehidupan bisa berkembang.

“Jagad raya sudah berumur 12 hingga 15 milyar tahun, sedangkan manusia baru muncul sekitar 40.000 tahun lalu. Kita adalah pendatang baru di jagad ini. Sebelum kita, barangkali ada kehidupan lain di tempat lain yang lebih dahulu berkembang,” kata Barnett. “Oleh sebab itu sangat sukar untuk berpikir bahwa tidak ada makhluk lain yang berevolusi di waktu dan tempat yang maha luas ini.”

Jagad yang amat luas

ist
Mungkinkah tidak adak kehidupan lain di jagad raya yang amat luas?

Seperti diketahui, perkembangan pengetahuan manusia terhadap jagad juga meningkat dengan pesat. Tahun 1924 astronom Edwin Hubble menunjukkan bahwa ada galaksi lain di luar galaksi kita. “Lebih dari setengah abad kemudian, teleskop Hubble menunjukkan di luar sana sedikitnya ada 100 milyar galaksi,” kata Shostak. “Padahal masing-masing galaksi, seperti galaksi kita Bima Sakti, adalah rumah bagi sekitar seratus milyar bintang.”

Sementara itu, jumlah planet juga sangat banyak. Sejak tahun 1995, saat pertama kali para astronom menemukan planet seukuran Yupiter diluar tata surya kita, mereka kemudian berhasil mengidentifikasi sekitar 100 lebih planet, hampir semuanya berukuran sekitar 300 kali lebih besar dari Bumi.

“Planet menjadi penemuan yang umum kemudian,” kata Shostak. “Kini kita tahu bahwa planet-planet di luar sana mengelilingi sepuluh atau dua puluh persen dari bintang-bintang yang kita lihat. Sejauh ini memang planet-planet besar sajalah yang kita deteksi, namun bisa jadi di antara planet-planet yang lebih kecil terdapat kehidupan.”

Yang jadi masalah pada saat ini adalah bahwa pencarian makhluk-makhluk cerdas dari luar angkasa selalu terhalang keterbatasan teknologi, dimana hanya sedikit bintang yang bisa diamati dari teleskop Bumi. Meski demikian, tahun 2007 mendatang NASA akan meluncurkan Misi Kepler, sebuah sistem teleskop ruang angkasa yang mampu mendeteksi planet-planet seukuran Merkurius, Mars, atau Bumi. Misi itu memang dirancang untuk menemukan planet yang bisa didiami, yakni yang memiliki jarak tertentu dari bintang induknya sehingga suhunya tidak terlalu dingin atau panas, dan memungkinkan adanya air di sana.

Proyek Kepler, jaringan teleskop Allen di Mount Lassen, California, dan proyek teleskop ruang angkasa yang akan diluncurkan Badan Antariksa Eropa, kelak akan memungkinkan para astronom meneliti sekitar 100.000 bintang pada tahun 2015. Kemampuan itu juga bakal memungkinkan manusia menerima sinyal radio dari makhluk luar angkasa.

Pencarian kehidupan cerdas

ist
Perkiraan wajah sang tetangga dari galaksi lain

Sesungguhnya pemikiran mengenai adanya kehidupan di luar angkasa sudah sejak dahulu dipercaya oleh banyak orang. Salah satu penyebabnya adalah bahwa senyawa-senyawa pembentuk kehidupan –seperti senyawa organik kompleks dan asam amino– terdapat secara meluas di jagad raya. Senyawa-senyawa itu bahkan ditemukan di meteorit, komet, serta pada gas dan debu antar bintang.

“Tumbuhnya pemikiran mengenai adanya kehidupan di luar Bumi tidak terbendung lagi,” kata Shostak. “Kita menemukan lautan dalam di bulan-bulan Yupiter, dan beberapa dugaan bahwa di planet Mars dahulu pernah ada kehidupan. Nah bila hal-hal seperti itu ditemukan di tata surya kita sendiri, apakah tidak mungkin hal yang lebih mencengangkan akan kita temui di bagian lain di jagad yang tak terkira luasnya ini.”

Tentu saja, ada perbedaan mendasar antara kehidupan sederhana dengan kehidupan cerdas, meski hal ini masih menjadi perdebatan. Beberapa ahli percaya bahwa kehidupan cerdas hanya mampu berkembang dalam kondisi tertentu. Stephen Jay Gould, ahli biologi dari Universitas Harvard, berpendapat bahwa makhluk cerdas hanya dapat tercipta dalam kondisi-kondisi tertentu yang sangat rumit. Sementara Shostak dan Barnett berpendapat sebaliknya. Menurut mereka ada suatu mekanisme evolusi yang memunculkan makhluk cerdas.

Seperti apa rupanya?

ist
Benarkah mereka akan tampak seperti ini?

Sedangkan mengenai rupa makhluk cerdas yang barangkali akan kita temui kelak, Shostak dan Barnett menyebutkan beberapa prinsip dasar yang harus dimiliki makhluk-makhluk itu. “Alien pastilah lebih besar dari tikus karena tikus hanya memiliki otak kecil, sementara bentuk kehidupan yang maju pastilah memiliki otak cukup besar,” kata Barnett. “Mereka juga akan lebih besar dari kucing, tapi pasti lebih kecil dibanding gajah karena pasti ada batas-batas tertentu mengenai berat badan yang bisa disangganya.”

Selain itu, alien diperkirakan memiliki dua mata, dengan asumsi bahwa mereka tinggal di sebuah planet yang mengelilingi suatu bintang. Seperti di Bumi, semua kehidupan yang berhubungan dengan cahaya selalu mempunyai mata. Nah, mengapa dua mata dan bukan satu? Dua mata memberikan keuntungan dalam mencari makan, kata Barnett. Mengapa bukan sepuluh mata? Karena sepuluh mata memerlukan otak yang kuat untuk memproses semua sinyal yang diterima, tanpa ada keuntungan yang sepadan.

Mengenai kakinya, kedua astronom sepakat bahwa kaki para alien pasti lebih dari satu, terutama bila mereka mampu membangun teleskop. Meski demikian jumlah tepatnya masih menjadi pertanyaan karena sekali lagi, terlalu banyak kaki dan tangan akan membutuhkan lebih banyak kemampuan otak untuk mengaturnya.

Karena alien-alien ini mungkin berada pada jarak yang sangat jauh, yakni trilyunan kilometer, mereka mungkin tidak akan melakukan kunjungan. “Banyak hal menarik mengenai alien, terutama dari sudut pandang bahwa mereka mengunjungi kita,” kata Shostak. “Namun hal itu sangat sulit dilakukan mengingat jarak yang amat jauh. Kemungkinan terbesar saat ini adalah kita bisa melakukann kontak dengan mereka melalui sinyal radio.”  (nationalgeographic/space/wsn

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: